Mencari yang Sempurna

Ada seorang pemuda yang telah sampai usia saat ia merasa harus mencari pasangan hidup. Jadi ia mencari-cari gadis sempurna di seluruh negeri untuk dinikahi. Setelah berhari-hari, berminggu-minggu mencari, ia bertemu dengan gadis yang sangat cantik-jenis gadis yang bisa menghiasi sampul majalah perempuan bahkan tanpa make-up atau kosmetik!
Namun, meski dia kelihatan sempurna, pemuda itu tak bisa menikahinya. Sebab gadis itu tidak bisa masak! Jadi pemuda itu pun pergi. Gadis ini tak cukup sempurna baginya.
Lalu ia mencari lagi, selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan akhirnya ia menemukan gadis yang bahkan lebih cantik lagi, dan kali ini masakan gadis itu luar biasa lezat-lebih baik dari yang bisa Anda dapatkah di restoran terbaik di negeri ini, bahkan lebih baik dari yang bisa Anda dapatkan dari restoran keluarga. Gadis ini bahkan menjalankan usaha restorannya sendiri! Wow hebat sekali bukan.
Namun pemuda ini tak bisa menikahinya pula. Sebab kekurangan gadis itu adalah dia bodoh. Dia tak bisa menjalin percakapan sama sekali, sama sekali tidak cerdas. Dia belum menamatkan pendidikan, segala yang ia tahu cuma memasak! Jadi pemuda itu pun pergi. Gadis ini tak cukup sempurna baginya.
Maka ia mencari selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga ia akhirnya menemukan gadis yang satu ini! Ia begitu cantik, masakannya melebihi restoran bintang lima, bahkan ia punya tiga restoran sendiri: ala Korea, ala Jepang dan ala Italia. Dan ia begitu cerdas, ia punya dua gelar doktor, pengetahuannya begitu luas, bisa menjalin percakapan begitu hebat, begitu baik, begitu perhatian. Ia sempurna!
Tapi, pemuda ini tak bisa menikahinya. Sebab gadis ini mencari pria yang sempurna!
Source By https://iphincow.com/2014/07/15/mencari-yang-sempurna/#more-1072
Jilbab Besar Belum
Tentu Syar'i
19 April 2013 07:45:15 Diperbarui: 24 Juni 2015 14:58:08 Dibaca : 26,516
Komentar : 21 Nilai : 0
Ketika mengamati perkembangan mode di tanah air, banyak ditemui berbagai
macam model busana yang kian hari kian vulgar. Bukan hanya di lingkup
entertainment saja, tetapi juga merambah ke pelosok daerah. Seperti kita
lihat celana pendek ketat yang populer disebut “Hotpen”, pada jaman
dahulu “Hotpen” hanya dipakai didalam rumah , atau mungkin sebagai
pakaian dalam. Tetapi sekarang beralih fungsi menjadi busana pamungkas
kaum hawa jika ia ingin disebut trendy, atau seksi. Dan lebih parahnya
lagi, busana semacam ini dianggap memiliki level yang tinggi dalam dunia
pergaulan. Padahal jika kita mengamati di negara-negara maju, celana
Hotpen juga disebut sebagai celana “ala pelacur”, sesuai dengan nama
yang dipopulerkan yaitu “Hot-pen” (celana yang merangsang). Nah !
ternyata fenomena semacam ini dianggap sebagai penunjang lahirnya
gerakan “Hijab Modis”. Yang mana tujuan utama dari Hijab Modis ini guna
mengajak para wanita untuk menutup auratnya dengan balutan yang tetap
mempertahankan keindahan dan estetika.
Dalam dunia Hijab Modis tentu kita akrab dengan nama Dian Pelangi
seorang desainer muslimah muda yang tidak berlebihan jika dianggap
sebagai pencetus dari Hijab Modis ini. Setelah namanya kian melejit di
tanah air, sontak wabah Hijab Modis melanda seluruh pelosok negeri
hingga berdirilah komunitas hijab modis atau akrab disebut Hijabers
Community. Walaupun terkesan ribet, tapi tidak sedikit pengikutnya, di
tempat-tempat keramaian seperti mall, kampus, bahkan pasar banyak
ditemui wanita berkerudung warna-warni yang tentu sesuai dengan nama
pencetusnya, yakni Dian “Pelangi”. Sampai sekarang terhitung mulai tahun
2010, gaya seperti itu masih populer, padahal biasanya model busana
hampir setiap tahun mengalami perubahan, tetapi ini justru semakin
beragam model dan corak yang dihadirkan oleh para perajin busana.
Bukan mode namanya jika tidak ada saingan, setelah merebaknya gaya hijab
beraliran pelangi, muncul lagi gaya hijab yang lebih kalem dengan warna
dominan. Tepatnya pada tahun 2013 ini muncul penggemar hijab yang
mengatasnamakan dirinya sebagai komunitas Hijab Syar’i. Dari namanya
kita sudah bisa menebak apa ambisi dari komunitas ini. Ya ! benar !
komunitas ini bertujuan untuk mengcounter gerakan Hijab sebelumnya yaitu
gerakan Hijab Modis, dengan berpendapat bahwa Hijab Modis adalah “tidak
memenuhi syari’at Islam”, karena terlalu mencolok dan justru menjadi
pusat perhatian lawan jenis. Dengan seperangkat dalil-dalil agama mereka
mulai menyerang Hijab Modis dari berbagai sudut, dan mereka juga kerap
mengadakan kajian-kajian seputar keilmuan agama seperti komunitas hijab
pada umumnya.
Jika kita amati, fenomena seperti ini memang sedikit banyak menyisakan
pertanyaan, dari pertanyaan yang bersifat fashion hingga ideologi!.
Sekilas memang tampak hanya persaingan antar komunitas fashion saja,
namun disini muncul perihal yang memuat keyakinan (ideologi). Katakanlah
fenomena kemunculan Hijab Syar’i, bagi seorang penjual kain, hal itu
memang tampak positif saja karena merupakan rejeki dari merebaknya tren
berhijab. Tetapi bagi penggiat pemikiran Islam, fenomena kemunculan
Hijab Syar’i menjadi PR yang cukup memeras otak. Bagaimana tidak? Coba
kita lihat sekali lagi apa yang terjadi antara kelompok Hijab Besar
dengan kelompok Hijab Modis. (maaf sebelumnya, lebih baik nama “Hijab
Syar’i” kami ganti menjadi “Hijab Besar”, karena memang “belum tentu”
pas dengan Syari’at Islam).
Yang terjadi di lapangan, posisi Hijab Modis adalah sebagai terdakwa,
sedangkan Hijab Besar sebagai si pendakwa. artinya, pihak Hijab Besar
selalu bersikap represif (memojokkan) terhadap kelompok Hijab Modis
dengan berbagai alasan seperti yang telah penulis katakan diatas.
Padahal jika dirunut dari segi “Jasa” (kontribusi) kepada keislaman,
sudah jelas lebih banyak berasal dari kelompok Hijab Modis . Mengajak
wanita untuk menutup aurat misalnya. Yang dulu begitu enggan untuk
memakai Hijab karena modelnya terlalu “monoton”, sekarang menjadi ingin
berjilbab lantaran banyaknya corak dan lebih familiar. Bukankah tujuan
utama hijab adalah semata-mata untuk menutup aurat?. Kemudian, apa
sumbangsih kelompok Hijab Besar bagi keislaman? Mungkin akan
mensyari’atkan model jilbab (hijab) yang kurang syari’at?, sesuai
kata-kata yang sering di publish di berbagai media sosial oleh kelompok
Hijab Besar ini,”Ayo.. Yg belum berhijab, segerakan | Yg sudah berhijab,
hijabnya syar'i-kan | Yg sudah syar'i, syiarkan ke sebanyak mungkin
muslimah”. (Dikutip dari akun facebook Hijab Syar’i /Hijab Besar). Coba
baca sekali lagi kalimat tersebut, disini sangat terlihat unsur
“kecongkakan religius”, mereka menganggap jilbab-nya lah yang paling
syar’i, bahkan mereka menamai dirinya dengan “Komunitas Hijab Syar’i”
yang kemudian model jilbab selain dirinya dianggap tidak memenuhi
syari’at. Nah ! disinilah letak permasalahannya !. Kira-kira seperti apa
model dan bentuk Hijab yang memenuhi syari’at Islam itu?
Belum sempat kita berbicara jilbab, ulama sudah berbeda pendapat tentang
makna jilbab itu sendiri. Ada yang mengatakan jilbab adalah kerudung,
ada juga yang mengatakan baju lebar dan sebagainya. Begitu juga dengan
batasan aurat, ulama juga berbeda pendapat tentang ini, ada yang
mengatakan bahwa seluruh tubuh adalah aurat kecuali wajah dan telapak
tangan, ada juga yang menganggap bahwa wajah merupakan aurat yang harus
ditutupi, dan ada juga ulama yang berpendapat yang penting kita memakai
pakaian terhormat (sopan). Karena memang Al-Qur’an tidak menyebut
batasan tentang aurat !. Jika kita boleh flashback, pada jaman dahulu
organisasi-organisasi Islam di Indonesia seperti Muslimat NU apakah
mereka mengenakan jilbab? Tidak !. Aisyiyah Muhammadiyah pakai jilbab?
Tidak !. Bahkan Istri orang sekaliber Buya Hamka pun tidak mengenakan
jilbab. Bukan berarti mereka tidak tahu, namun memang para ulama masih
berbeda pendapat.
Jadi pada kesimpulannya, tidak ada ruang bagi suatu kelompok untuk
menyalahkan kelompok lain yang berkenaan tentang jilbab ini. Apalagi
dugaan kesalahan itu muncul hanya karena perbedaan model berjilbab !,
Dan terkadang malah menuduh bahwa model jilbab yang dikenakan oleh
kelompok Hijab Modis merupakan adopsi dari busana agama lain, kemudian
dilanjutkan dengan menuduh bahwa mereka meniru-niru kebudayaan Yahudi
misalnya. Ini sangat bodoh, dan terlalu mengada-ada !. Walaupun jika
memang ada kemiripan, faktor ketidaksengajaan bisa saja terjadi, apalagi
di era globalisasi seperti sekarang ini. Jika kita sering melihat
perkembangan dunia Arab, umat Nasrani yang berada disana juga memakai
jilbab seperti pada umumnya umat Islam. Jilbab sudah menjadi adat dunia
Arab, pedagang Heroin pun disana juga mengenakan busana seperti yang
kita anggap sebagai busana Islami di Indonesia. Menurut Ibn ‘Asyur
seorang ulama Andalusia berpendapat bahwa jilbab memang murni produk
budaya Arab yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan Islam.
Adapun pengertian dalam surat Al-Ahzab ayat 59, meskipun dalam redaksi
ayat tersebut memerintahkan jilbab, tetapi bukan semua perintah dalam
Al-Qur’an merupakan perintah wajib. Demikian pula dengan hadits-hadits
yang berkenaan tentang perintah berjilbab bagi wanita adalah perintah
dalam arti “sebaiknya” bukan seharusnya. Dari sini kita jadi lebih
mengerti betapa luasnya pembahasan tentang jilbab. Dari ulama klasik
hingga ulama kontemporer masih berdebat mengenai perihal satu ini. Maka
dari itu, tidak mudah untuk memvonis seseorang itu benar atau salah,
sesuai syari’at atau tidak. Al-Qur’an dan Hadits memang landasan utama
umat Islam, tetapi dalam pengambilan hukumnya (istinbath) diperlukan
seseorang yang berkompeten dalam bidangnya, dan kita tidak boleh
sembarangan dalam menafsirkan teks-teks agama, apalagi banyak dari kita
yang hanya mengandalkan “Al-Qur’an terjemahan Departemen Agama RI” sudah
berani mengambil kesimpulan hukum. Islam tidak menginginkan hal semacam
itu.
Pada akhirnya, berjilbab dengan model apapun sah-sah saja, dan tentunya
berjilbab itu baik ! tetapi jadi tidak benar jika karena ingin
mempertahankan kelompok anda, anda harus menyerang pandangan kelompok
lain. Kelewat sepele jika busana dijadikan tolok-ukur ketaqwaan
seseorang.
Wallahu a’lam Wa ahkam.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/aanmb/jilbab-besar-belum-tentu-syar-i_55292b08f17e61a7458b4575
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/aanmb/jilbab-besar-belum-tentu-syar-i_55292b08f17e61a7458b4575
Jilbab Besar Belum
Tentu Syar'i
19 April 2013 07:45:15 Diperbarui: 24 Juni 2015 14:58:08 Dibaca : 26,516
Komentar : 21 Nilai : 0
Ketika mengamati perkembangan mode di tanah air, banyak ditemui berbagai
macam model busana yang kian hari kian vulgar. Bukan hanya di lingkup
entertainment saja, tetapi juga merambah ke pelosok daerah. Seperti kita
lihat celana pendek ketat yang populer disebut “Hotpen”, pada jaman
dahulu “Hotpen” hanya dipakai didalam rumah , atau mungkin sebagai
pakaian dalam. Tetapi sekarang beralih fungsi menjadi busana pamungkas
kaum hawa jika ia ingin disebut trendy, atau seksi. Dan lebih parahnya
lagi, busana semacam ini dianggap memiliki level yang tinggi dalam dunia
pergaulan. Padahal jika kita mengamati di negara-negara maju, celana
Hotpen juga disebut sebagai celana “ala pelacur”, sesuai dengan nama
yang dipopulerkan yaitu “Hot-pen” (celana yang merangsang). Nah !
ternyata fenomena semacam ini dianggap sebagai penunjang lahirnya
gerakan “Hijab Modis”. Yang mana tujuan utama dari Hijab Modis ini guna
mengajak para wanita untuk menutup auratnya dengan balutan yang tetap
mempertahankan keindahan dan estetika.
Dalam dunia Hijab Modis tentu kita akrab dengan nama Dian Pelangi
seorang desainer muslimah muda yang tidak berlebihan jika dianggap
sebagai pencetus dari Hijab Modis ini. Setelah namanya kian melejit di
tanah air, sontak wabah Hijab Modis melanda seluruh pelosok negeri
hingga berdirilah komunitas hijab modis atau akrab disebut Hijabers
Community. Walaupun terkesan ribet, tapi tidak sedikit pengikutnya, di
tempat-tempat keramaian seperti mall, kampus, bahkan pasar banyak
ditemui wanita berkerudung warna-warni yang tentu sesuai dengan nama
pencetusnya, yakni Dian “Pelangi”. Sampai sekarang terhitung mulai tahun
2010, gaya seperti itu masih populer, padahal biasanya model busana
hampir setiap tahun mengalami perubahan, tetapi ini justru semakin
beragam model dan corak yang dihadirkan oleh para perajin busana.
Bukan mode namanya jika tidak ada saingan, setelah merebaknya gaya hijab
beraliran pelangi, muncul lagi gaya hijab yang lebih kalem dengan warna
dominan. Tepatnya pada tahun 2013 ini muncul penggemar hijab yang
mengatasnamakan dirinya sebagai komunitas Hijab Syar’i. Dari namanya
kita sudah bisa menebak apa ambisi dari komunitas ini. Ya ! benar !
komunitas ini bertujuan untuk mengcounter gerakan Hijab sebelumnya yaitu
gerakan Hijab Modis, dengan berpendapat bahwa Hijab Modis adalah “tidak
memenuhi syari’at Islam”, karena terlalu mencolok dan justru menjadi
pusat perhatian lawan jenis. Dengan seperangkat dalil-dalil agama mereka
mulai menyerang Hijab Modis dari berbagai sudut, dan mereka juga kerap
mengadakan kajian-kajian seputar keilmuan agama seperti komunitas hijab
pada umumnya.
Jika kita amati, fenomena seperti ini memang sedikit banyak menyisakan
pertanyaan, dari pertanyaan yang bersifat fashion hingga ideologi!.
Sekilas memang tampak hanya persaingan antar komunitas fashion saja,
namun disini muncul perihal yang memuat keyakinan (ideologi). Katakanlah
fenomena kemunculan Hijab Syar’i, bagi seorang penjual kain, hal itu
memang tampak positif saja karena merupakan rejeki dari merebaknya tren
berhijab. Tetapi bagi penggiat pemikiran Islam, fenomena kemunculan
Hijab Syar’i menjadi PR yang cukup memeras otak. Bagaimana tidak? Coba
kita lihat sekali lagi apa yang terjadi antara kelompok Hijab Besar
dengan kelompok Hijab Modis. (maaf sebelumnya, lebih baik nama “Hijab
Syar’i” kami ganti menjadi “Hijab Besar”, karena memang “belum tentu”
pas dengan Syari’at Islam).
Yang terjadi di lapangan, posisi Hijab Modis adalah sebagai terdakwa,
sedangkan Hijab Besar sebagai si pendakwa. artinya, pihak Hijab Besar
selalu bersikap represif (memojokkan) terhadap kelompok Hijab Modis
dengan berbagai alasan seperti yang telah penulis katakan diatas.
Padahal jika dirunut dari segi “Jasa” (kontribusi) kepada keislaman,
sudah jelas lebih banyak berasal dari kelompok Hijab Modis . Mengajak
wanita untuk menutup aurat misalnya. Yang dulu begitu enggan untuk
memakai Hijab karena modelnya terlalu “monoton”, sekarang menjadi ingin
berjilbab lantaran banyaknya corak dan lebih familiar. Bukankah tujuan
utama hijab adalah semata-mata untuk menutup aurat?. Kemudian, apa
sumbangsih kelompok Hijab Besar bagi keislaman? Mungkin akan
mensyari’atkan model jilbab (hijab) yang kurang syari’at?, sesuai
kata-kata yang sering di publish di berbagai media sosial oleh kelompok
Hijab Besar ini,”Ayo.. Yg belum berhijab, segerakan | Yg sudah berhijab,
hijabnya syar'i-kan | Yg sudah syar'i, syiarkan ke sebanyak mungkin
muslimah”. (Dikutip dari akun facebook Hijab Syar’i /Hijab Besar). Coba
baca sekali lagi kalimat tersebut, disini sangat terlihat unsur
“kecongkakan religius”, mereka menganggap jilbab-nya lah yang paling
syar’i, bahkan mereka menamai dirinya dengan “Komunitas Hijab Syar’i”
yang kemudian model jilbab selain dirinya dianggap tidak memenuhi
syari’at. Nah ! disinilah letak permasalahannya !. Kira-kira seperti apa
model dan bentuk Hijab yang memenuhi syari’at Islam itu?
Belum sempat kita berbicara jilbab, ulama sudah berbeda pendapat tentang
makna jilbab itu sendiri. Ada yang mengatakan jilbab adalah kerudung,
ada juga yang mengatakan baju lebar dan sebagainya. Begitu juga dengan
batasan aurat, ulama juga berbeda pendapat tentang ini, ada yang
mengatakan bahwa seluruh tubuh adalah aurat kecuali wajah dan telapak
tangan, ada juga yang menganggap bahwa wajah merupakan aurat yang harus
ditutupi, dan ada juga ulama yang berpendapat yang penting kita memakai
pakaian terhormat (sopan). Karena memang Al-Qur’an tidak menyebut
batasan tentang aurat !. Jika kita boleh flashback, pada jaman dahulu
organisasi-organisasi Islam di Indonesia seperti Muslimat NU apakah
mereka mengenakan jilbab? Tidak !. Aisyiyah Muhammadiyah pakai jilbab?
Tidak !. Bahkan Istri orang sekaliber Buya Hamka pun tidak mengenakan
jilbab. Bukan berarti mereka tidak tahu, namun memang para ulama masih
berbeda pendapat.
Jadi pada kesimpulannya, tidak ada ruang bagi suatu kelompok untuk
menyalahkan kelompok lain yang berkenaan tentang jilbab ini. Apalagi
dugaan kesalahan itu muncul hanya karena perbedaan model berjilbab !,
Dan terkadang malah menuduh bahwa model jilbab yang dikenakan oleh
kelompok Hijab Modis merupakan adopsi dari busana agama lain, kemudian
dilanjutkan dengan menuduh bahwa mereka meniru-niru kebudayaan Yahudi
misalnya. Ini sangat bodoh, dan terlalu mengada-ada !. Walaupun jika
memang ada kemiripan, faktor ketidaksengajaan bisa saja terjadi, apalagi
di era globalisasi seperti sekarang ini. Jika kita sering melihat
perkembangan dunia Arab, umat Nasrani yang berada disana juga memakai
jilbab seperti pada umumnya umat Islam. Jilbab sudah menjadi adat dunia
Arab, pedagang Heroin pun disana juga mengenakan busana seperti yang
kita anggap sebagai busana Islami di Indonesia. Menurut Ibn ‘Asyur
seorang ulama Andalusia berpendapat bahwa jilbab memang murni produk
budaya Arab yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan Islam.
Adapun pengertian dalam surat Al-Ahzab ayat 59, meskipun dalam redaksi
ayat tersebut memerintahkan jilbab, tetapi bukan semua perintah dalam
Al-Qur’an merupakan perintah wajib. Demikian pula dengan hadits-hadits
yang berkenaan tentang perintah berjilbab bagi wanita adalah perintah
dalam arti “sebaiknya” bukan seharusnya. Dari sini kita jadi lebih
mengerti betapa luasnya pembahasan tentang jilbab. Dari ulama klasik
hingga ulama kontemporer masih berdebat mengenai perihal satu ini. Maka
dari itu, tidak mudah untuk memvonis seseorang itu benar atau salah,
sesuai syari’at atau tidak. Al-Qur’an dan Hadits memang landasan utama
umat Islam, tetapi dalam pengambilan hukumnya (istinbath) diperlukan
seseorang yang berkompeten dalam bidangnya, dan kita tidak boleh
sembarangan dalam menafsirkan teks-teks agama, apalagi banyak dari kita
yang hanya mengandalkan “Al-Qur’an terjemahan Departemen Agama RI” sudah
berani mengambil kesimpulan hukum. Islam tidak menginginkan hal semacam
itu.
Pada akhirnya, berjilbab dengan model apapun sah-sah saja, dan tentunya
berjilbab itu baik ! tetapi jadi tidak benar jika karena ingin
mempertahankan kelompok anda, anda harus menyerang pandangan kelompok
lain. Kelewat sepele jika busana dijadikan tolok-ukur ketaqwaan
seseorang.
Wallahu a’lam Wa ahkam.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/aanmb/jilbab-besar-belum-tentu-syar-i_55292b08f17e61a7458b4575
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/aanmb/jilbab-besar-belum-tentu-syar-i_55292b08f17e61a7458b4575
Jilbab Besar Belum
Tentu Syar'i
19 April 2013 07:45:15 Diperbarui: 24 Juni 2015 14:58:08 Dibaca : 26,516
Komentar : 21 Nilai : 0
Ketika mengamati perkembangan mode di tanah air, banyak ditemui berbagai
macam model busana yang kian hari kian vulgar. Bukan hanya di lingkup
entertainment saja, tetapi juga merambah ke pelosok daerah. Seperti kita
lihat celana pendek ketat yang populer disebut “Hotpen”, pada jaman
dahulu “Hotpen” hanya dipakai didalam rumah , atau mungkin sebagai
pakaian dalam. Tetapi sekarang beralih fungsi menjadi busana pamungkas
kaum hawa jika ia ingin disebut trendy, atau seksi. Dan lebih parahnya
lagi, busana semacam ini dianggap memiliki level yang tinggi dalam dunia
pergaulan. Padahal jika kita mengamati di negara-negara maju, celana
Hotpen juga disebut sebagai celana “ala pelacur”, sesuai dengan nama
yang dipopulerkan yaitu “Hot-pen” (celana yang merangsang). Nah !
ternyata fenomena semacam ini dianggap sebagai penunjang lahirnya
gerakan “Hijab Modis”. Yang mana tujuan utama dari Hijab Modis ini guna
mengajak para wanita untuk menutup auratnya dengan balutan yang tetap
mempertahankan keindahan dan estetika.
Dalam dunia Hijab Modis tentu kita akrab dengan nama Dian Pelangi
seorang desainer muslimah muda yang tidak berlebihan jika dianggap
sebagai pencetus dari Hijab Modis ini. Setelah namanya kian melejit di
tanah air, sontak wabah Hijab Modis melanda seluruh pelosok negeri
hingga berdirilah komunitas hijab modis atau akrab disebut Hijabers
Community. Walaupun terkesan ribet, tapi tidak sedikit pengikutnya, di
tempat-tempat keramaian seperti mall, kampus, bahkan pasar banyak
ditemui wanita berkerudung warna-warni yang tentu sesuai dengan nama
pencetusnya, yakni Dian “Pelangi”. Sampai sekarang terhitung mulai tahun
2010, gaya seperti itu masih populer, padahal biasanya model busana
hampir setiap tahun mengalami perubahan, tetapi ini justru semakin
beragam model dan corak yang dihadirkan oleh para perajin busana.
Bukan mode namanya jika tidak ada saingan, setelah merebaknya gaya hijab
beraliran pelangi, muncul lagi gaya hijab yang lebih kalem dengan warna
dominan. Tepatnya pada tahun 2013 ini muncul penggemar hijab yang
mengatasnamakan dirinya sebagai komunitas Hijab Syar’i. Dari namanya
kita sudah bisa menebak apa ambisi dari komunitas ini. Ya ! benar !
komunitas ini bertujuan untuk mengcounter gerakan Hijab sebelumnya yaitu
gerakan Hijab Modis, dengan berpendapat bahwa Hijab Modis adalah “tidak
memenuhi syari’at Islam”, karena terlalu mencolok dan justru menjadi
pusat perhatian lawan jenis. Dengan seperangkat dalil-dalil agama mereka
mulai menyerang Hijab Modis dari berbagai sudut, dan mereka juga kerap
mengadakan kajian-kajian seputar keilmuan agama seperti komunitas hijab
pada umumnya.
Jika kita amati, fenomena seperti ini memang sedikit banyak menyisakan
pertanyaan, dari pertanyaan yang bersifat fashion hingga ideologi!.
Sekilas memang tampak hanya persaingan antar komunitas fashion saja,
namun disini muncul perihal yang memuat keyakinan (ideologi). Katakanlah
fenomena kemunculan Hijab Syar’i, bagi seorang penjual kain, hal itu
memang tampak positif saja karena merupakan rejeki dari merebaknya tren
berhijab. Tetapi bagi penggiat pemikiran Islam, fenomena kemunculan
Hijab Syar’i menjadi PR yang cukup memeras otak. Bagaimana tidak? Coba
kita lihat sekali lagi apa yang terjadi antara kelompok Hijab Besar
dengan kelompok Hijab Modis. (maaf sebelumnya, lebih baik nama “Hijab
Syar’i” kami ganti menjadi “Hijab Besar”, karena memang “belum tentu”
pas dengan Syari’at Islam).
Yang terjadi di lapangan, posisi Hijab Modis adalah sebagai terdakwa,
sedangkan Hijab Besar sebagai si pendakwa. artinya, pihak Hijab Besar
selalu bersikap represif (memojokkan) terhadap kelompok Hijab Modis
dengan berbagai alasan seperti yang telah penulis katakan diatas.
Padahal jika dirunut dari segi “Jasa” (kontribusi) kepada keislaman,
sudah jelas lebih banyak berasal dari kelompok Hijab Modis . Mengajak
wanita untuk menutup aurat misalnya. Yang dulu begitu enggan untuk
memakai Hijab karena modelnya terlalu “monoton”, sekarang menjadi ingin
berjilbab lantaran banyaknya corak dan lebih familiar. Bukankah tujuan
utama hijab adalah semata-mata untuk menutup aurat?. Kemudian, apa
sumbangsih kelompok Hijab Besar bagi keislaman? Mungkin akan
mensyari’atkan model jilbab (hijab) yang kurang syari’at?, sesuai
kata-kata yang sering di publish di berbagai media sosial oleh kelompok
Hijab Besar ini,”Ayo.. Yg belum berhijab, segerakan | Yg sudah berhijab,
hijabnya syar'i-kan | Yg sudah syar'i, syiarkan ke sebanyak mungkin
muslimah”. (Dikutip dari akun facebook Hijab Syar’i /Hijab Besar). Coba
baca sekali lagi kalimat tersebut, disini sangat terlihat unsur
“kecongkakan religius”, mereka menganggap jilbab-nya lah yang paling
syar’i, bahkan mereka menamai dirinya dengan “Komunitas Hijab Syar’i”
yang kemudian model jilbab selain dirinya dianggap tidak memenuhi
syari’at. Nah ! disinilah letak permasalahannya !. Kira-kira seperti apa
model dan bentuk Hijab yang memenuhi syari’at Islam itu?
Belum sempat kita berbicara jilbab, ulama sudah berbeda pendapat tentang
makna jilbab itu sendiri. Ada yang mengatakan jilbab adalah kerudung,
ada juga yang mengatakan baju lebar dan sebagainya. Begitu juga dengan
batasan aurat, ulama juga berbeda pendapat tentang ini, ada yang
mengatakan bahwa seluruh tubuh adalah aurat kecuali wajah dan telapak
tangan, ada juga yang menganggap bahwa wajah merupakan aurat yang harus
ditutupi, dan ada juga ulama yang berpendapat yang penting kita memakai
pakaian terhormat (sopan). Karena memang Al-Qur’an tidak menyebut
batasan tentang aurat !. Jika kita boleh flashback, pada jaman dahulu
organisasi-organisasi Islam di Indonesia seperti Muslimat NU apakah
mereka mengenakan jilbab? Tidak !. Aisyiyah Muhammadiyah pakai jilbab?
Tidak !. Bahkan Istri orang sekaliber Buya Hamka pun tidak mengenakan
jilbab. Bukan berarti mereka tidak tahu, namun memang para ulama masih
berbeda pendapat.
Jadi pada kesimpulannya, tidak ada ruang bagi suatu kelompok untuk
menyalahkan kelompok lain yang berkenaan tentang jilbab ini. Apalagi
dugaan kesalahan itu muncul hanya karena perbedaan model berjilbab !,
Dan terkadang malah menuduh bahwa model jilbab yang dikenakan oleh
kelompok Hijab Modis merupakan adopsi dari busana agama lain, kemudian
dilanjutkan dengan menuduh bahwa mereka meniru-niru kebudayaan Yahudi
misalnya. Ini sangat bodoh, dan terlalu mengada-ada !. Walaupun jika
memang ada kemiripan, faktor ketidaksengajaan bisa saja terjadi, apalagi
di era globalisasi seperti sekarang ini. Jika kita sering melihat
perkembangan dunia Arab, umat Nasrani yang berada disana juga memakai
jilbab seperti pada umumnya umat Islam. Jilbab sudah menjadi adat dunia
Arab, pedagang Heroin pun disana juga mengenakan busana seperti yang
kita anggap sebagai busana Islami di Indonesia. Menurut Ibn ‘Asyur
seorang ulama Andalusia berpendapat bahwa jilbab memang murni produk
budaya Arab yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan Islam.
Adapun pengertian dalam surat Al-Ahzab ayat 59, meskipun dalam redaksi
ayat tersebut memerintahkan jilbab, tetapi bukan semua perintah dalam
Al-Qur’an merupakan perintah wajib. Demikian pula dengan hadits-hadits
yang berkenaan tentang perintah berjilbab bagi wanita adalah perintah
dalam arti “sebaiknya” bukan seharusnya. Dari sini kita jadi lebih
mengerti betapa luasnya pembahasan tentang jilbab. Dari ulama klasik
hingga ulama kontemporer masih berdebat mengenai perihal satu ini. Maka
dari itu, tidak mudah untuk memvonis seseorang itu benar atau salah,
sesuai syari’at atau tidak. Al-Qur’an dan Hadits memang landasan utama
umat Islam, tetapi dalam pengambilan hukumnya (istinbath) diperlukan
seseorang yang berkompeten dalam bidangnya, dan kita tidak boleh
sembarangan dalam menafsirkan teks-teks agama, apalagi banyak dari kita
yang hanya mengandalkan “Al-Qur’an terjemahan Departemen Agama RI” sudah
berani mengambil kesimpulan hukum. Islam tidak menginginkan hal semacam
itu.
Pada akhirnya, berjilbab dengan model apapun sah-sah saja, dan tentunya
berjilbab itu baik ! tetapi jadi tidak benar jika karena ingin
mempertahankan kelompok anda, anda harus menyerang pandangan kelompok
lain. Kelewat sepele jika busana dijadikan tolok-ukur ketaqwaan
seseorang.
Wallahu a’lam Wa ahkam.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/aanmb/jilbab-besar-belum-tentu-syar-i_55292b08f17e61a7458b4575
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/aanmb/jilbab-besar-belum-tentu-syar-i_55292b08f17e61a7458b4575
Jilbab Besar Belum
Tentu Syar'i
19 April 2013 07:45:15 Diperbarui: 24 Juni 2015 14:58:08 Dibaca : 26,516
Komentar : 21 Nilai : 0
Ketika mengamati perkembangan mode di tanah air, banyak ditemui berbagai
macam model busana yang kian hari kian vulgar. Bukan hanya di lingkup
entertainment saja, tetapi juga merambah ke pelosok daerah. Seperti kita
lihat celana pendek ketat yang populer disebut “Hotpen”, pada jaman
dahulu “Hotpen” hanya dipakai didalam rumah , atau mungkin sebagai
pakaian dalam. Tetapi sekarang beralih fungsi menjadi busana pamungkas
kaum hawa jika ia ingin disebut trendy, atau seksi. Dan lebih parahnya
lagi, busana semacam ini dianggap memiliki level yang tinggi dalam dunia
pergaulan. Padahal jika kita mengamati di negara-negara maju, celana
Hotpen juga disebut sebagai celana “ala pelacur”, sesuai dengan nama
yang dipopulerkan yaitu “Hot-pen” (celana yang merangsang). Nah !
ternyata fenomena semacam ini dianggap sebagai penunjang lahirnya
gerakan “Hijab Modis”. Yang mana tujuan utama dari Hijab Modis ini guna
mengajak para wanita untuk menutup auratnya dengan balutan yang tetap
mempertahankan keindahan dan estetika.
Dalam dunia Hijab Modis tentu kita akrab dengan nama Dian Pelangi
seorang desainer muslimah muda yang tidak berlebihan jika dianggap
sebagai pencetus dari Hijab Modis ini. Setelah namanya kian melejit di
tanah air, sontak wabah Hijab Modis melanda seluruh pelosok negeri
hingga berdirilah komunitas hijab modis atau akrab disebut Hijabers
Community. Walaupun terkesan ribet, tapi tidak sedikit pengikutnya, di
tempat-tempat keramaian seperti mall, kampus, bahkan pasar banyak
ditemui wanita berkerudung warna-warni yang tentu sesuai dengan nama
pencetusnya, yakni Dian “Pelangi”. Sampai sekarang terhitung mulai tahun
2010, gaya seperti itu masih populer, padahal biasanya model busana
hampir setiap tahun mengalami perubahan, tetapi ini justru semakin
beragam model dan corak yang dihadirkan oleh para perajin busana.
Bukan mode namanya jika tidak ada saingan, setelah merebaknya gaya hijab
beraliran pelangi, muncul lagi gaya hijab yang lebih kalem dengan warna
dominan. Tepatnya pada tahun 2013 ini muncul penggemar hijab yang
mengatasnamakan dirinya sebagai komunitas Hijab Syar’i. Dari namanya
kita sudah bisa menebak apa ambisi dari komunitas ini. Ya ! benar !
komunitas ini bertujuan untuk mengcounter gerakan Hijab sebelumnya yaitu
gerakan Hijab Modis, dengan berpendapat bahwa Hijab Modis adalah “tidak
memenuhi syari’at Islam”, karena terlalu mencolok dan justru menjadi
pusat perhatian lawan jenis. Dengan seperangkat dalil-dalil agama mereka
mulai menyerang Hijab Modis dari berbagai sudut, dan mereka juga kerap
mengadakan kajian-kajian seputar keilmuan agama seperti komunitas hijab
pada umumnya.
Jika kita amati, fenomena seperti ini memang sedikit banyak menyisakan
pertanyaan, dari pertanyaan yang bersifat fashion hingga ideologi!.
Sekilas memang tampak hanya persaingan antar komunitas fashion saja,
namun disini muncul perihal yang memuat keyakinan (ideologi). Katakanlah
fenomena kemunculan Hijab Syar’i, bagi seorang penjual kain, hal itu
memang tampak positif saja karena merupakan rejeki dari merebaknya tren
berhijab. Tetapi bagi penggiat pemikiran Islam, fenomena kemunculan
Hijab Syar’i menjadi PR yang cukup memeras otak. Bagaimana tidak? Coba
kita lihat sekali lagi apa yang terjadi antara kelompok Hijab Besar
dengan kelompok Hijab Modis. (maaf sebelumnya, lebih baik nama “Hijab
Syar’i” kami ganti menjadi “Hijab Besar”, karena memang “belum tentu”
pas dengan Syari’at Islam).
Yang terjadi di lapangan, posisi Hijab Modis adalah sebagai terdakwa,
sedangkan Hijab Besar sebagai si pendakwa. artinya, pihak Hijab Besar
selalu bersikap represif (memojokkan) terhadap kelompok Hijab Modis
dengan berbagai alasan seperti yang telah penulis katakan diatas.
Padahal jika dirunut dari segi “Jasa” (kontribusi) kepada keislaman,
sudah jelas lebih banyak berasal dari kelompok Hijab Modis . Mengajak
wanita untuk menutup aurat misalnya. Yang dulu begitu enggan untuk
memakai Hijab karena modelnya terlalu “monoton”, sekarang menjadi ingin
berjilbab lantaran banyaknya corak dan lebih familiar. Bukankah tujuan
utama hijab adalah semata-mata untuk menutup aurat?. Kemudian, apa
sumbangsih kelompok Hijab Besar bagi keislaman? Mungkin akan
mensyari’atkan model jilbab (hijab) yang kurang syari’at?, sesuai
kata-kata yang sering di publish di berbagai media sosial oleh kelompok
Hijab Besar ini,”Ayo.. Yg belum berhijab, segerakan | Yg sudah berhijab,
hijabnya syar'i-kan | Yg sudah syar'i, syiarkan ke sebanyak mungkin
muslimah”. (Dikutip dari akun facebook Hijab Syar’i /Hijab Besar). Coba
baca sekali lagi kalimat tersebut, disini sangat terlihat unsur
“kecongkakan religius”, mereka menganggap jilbab-nya lah yang paling
syar’i, bahkan mereka menamai dirinya dengan “Komunitas Hijab Syar’i”
yang kemudian model jilbab selain dirinya dianggap tidak memenuhi
syari’at. Nah ! disinilah letak permasalahannya !. Kira-kira seperti apa
model dan bentuk Hijab yang memenuhi syari’at Islam itu?
Belum sempat kita berbicara jilbab, ulama sudah berbeda pendapat tentang
makna jilbab itu sendiri. Ada yang mengatakan jilbab adalah kerudung,
ada juga yang mengatakan baju lebar dan sebagainya. Begitu juga dengan
batasan aurat, ulama juga berbeda pendapat tentang ini, ada yang
mengatakan bahwa seluruh tubuh adalah aurat kecuali wajah dan telapak
tangan, ada juga yang menganggap bahwa wajah merupakan aurat yang harus
ditutupi, dan ada juga ulama yang berpendapat yang penting kita memakai
pakaian terhormat (sopan). Karena memang Al-Qur’an tidak menyebut
batasan tentang aurat !. Jika kita boleh flashback, pada jaman dahulu
organisasi-organisasi Islam di Indonesia seperti Muslimat NU apakah
mereka mengenakan jilbab? Tidak !. Aisyiyah Muhammadiyah pakai jilbab?
Tidak !. Bahkan Istri orang sekaliber Buya Hamka pun tidak mengenakan
jilbab. Bukan berarti mereka tidak tahu, namun memang para ulama masih
berbeda pendapat.
Jadi pada kesimpulannya, tidak ada ruang bagi suatu kelompok untuk
menyalahkan kelompok lain yang berkenaan tentang jilbab ini. Apalagi
dugaan kesalahan itu muncul hanya karena perbedaan model berjilbab !,
Dan terkadang malah menuduh bahwa model jilbab yang dikenakan oleh
kelompok Hijab Modis merupakan adopsi dari busana agama lain, kemudian
dilanjutkan dengan menuduh bahwa mereka meniru-niru kebudayaan Yahudi
misalnya. Ini sangat bodoh, dan terlalu mengada-ada !. Walaupun jika
memang ada kemiripan, faktor ketidaksengajaan bisa saja terjadi, apalagi
di era globalisasi seperti sekarang ini. Jika kita sering melihat
perkembangan dunia Arab, umat Nasrani yang berada disana juga memakai
jilbab seperti pada umumnya umat Islam. Jilbab sudah menjadi adat dunia
Arab, pedagang Heroin pun disana juga mengenakan busana seperti yang
kita anggap sebagai busana Islami di Indonesia. Menurut Ibn ‘Asyur
seorang ulama Andalusia berpendapat bahwa jilbab memang murni produk
budaya Arab yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan Islam.
Adapun pengertian dalam surat Al-Ahzab ayat 59, meskipun dalam redaksi
ayat tersebut memerintahkan jilbab, tetapi bukan semua perintah dalam
Al-Qur’an merupakan perintah wajib. Demikian pula dengan hadits-hadits
yang berkenaan tentang perintah berjilbab bagi wanita adalah perintah
dalam arti “sebaiknya” bukan seharusnya. Dari sini kita jadi lebih
mengerti betapa luasnya pembahasan tentang jilbab. Dari ulama klasik
hingga ulama kontemporer masih berdebat mengenai perihal satu ini. Maka
dari itu, tidak mudah untuk memvonis seseorang itu benar atau salah,
sesuai syari’at atau tidak. Al-Qur’an dan Hadits memang landasan utama
umat Islam, tetapi dalam pengambilan hukumnya (istinbath) diperlukan
seseorang yang berkompeten dalam bidangnya, dan kita tidak boleh
sembarangan dalam menafsirkan teks-teks agama, apalagi banyak dari kita
yang hanya mengandalkan “Al-Qur’an terjemahan Departemen Agama RI” sudah
berani mengambil kesimpulan hukum. Islam tidak menginginkan hal semacam
itu.
Pada akhirnya, berjilbab dengan model apapun sah-sah saja, dan tentunya
berjilbab itu baik ! tetapi jadi tidak benar jika karena ingin
mempertahankan kelompok anda, anda harus menyerang pandangan kelompok
lain. Kelewat sepele jika busana dijadikan tolok-ukur ketaqwaan
seseorang.
Wallahu a’lam Wa ahkam.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/aanmb/jilbab-besar-belum-tentu-syar-i_55292b08f17e61a7458b4575
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/aanmb/jilbab-besar-belum-tentu-syar-i_55292b08f17e61a7458b4575
Jilbab Besar Belum
Tentu Syar'i
19 April 2013 07:45:15 Diperbarui: 24 Juni 2015 14:58:08 Dibaca : 26,516
Komentar : 21 Nilai : 0
Ketika mengamati perkembangan mode di tanah air, banyak ditemui berbagai
macam model busana yang kian hari kian vulgar. Bukan hanya di lingkup
entertainment saja, tetapi juga merambah ke pelosok daerah. Seperti kita
lihat celana pendek ketat yang populer disebut “Hotpen”, pada jaman
dahulu “Hotpen” hanya dipakai didalam rumah , atau mungkin sebagai
pakaian dalam. Tetapi sekarang beralih fungsi menjadi busana pamungkas
kaum hawa jika ia ingin disebut trendy, atau seksi. Dan lebih parahnya
lagi, busana semacam ini dianggap memiliki level yang tinggi dalam dunia
pergaulan. Padahal jika kita mengamati di negara-negara maju, celana
Hotpen juga disebut sebagai celana “ala pelacur”, sesuai dengan nama
yang dipopulerkan yaitu “Hot-pen” (celana yang merangsang). Nah !
ternyata fenomena semacam ini dianggap sebagai penunjang lahirnya
gerakan “Hijab Modis”. Yang mana tujuan utama dari Hijab Modis ini guna
mengajak para wanita untuk menutup auratnya dengan balutan yang tetap
mempertahankan keindahan dan estetika.
Dalam dunia Hijab Modis tentu kita akrab dengan nama Dian Pelangi
seorang desainer muslimah muda yang tidak berlebihan jika dianggap
sebagai pencetus dari Hijab Modis ini. Setelah namanya kian melejit di
tanah air, sontak wabah Hijab Modis melanda seluruh pelosok negeri
hingga berdirilah komunitas hijab modis atau akrab disebut Hijabers
Community. Walaupun terkesan ribet, tapi tidak sedikit pengikutnya, di
tempat-tempat keramaian seperti mall, kampus, bahkan pasar banyak
ditemui wanita berkerudung warna-warni yang tentu sesuai dengan nama
pencetusnya, yakni Dian “Pelangi”. Sampai sekarang terhitung mulai tahun
2010, gaya seperti itu masih populer, padahal biasanya model busana
hampir setiap tahun mengalami perubahan, tetapi ini justru semakin
beragam model dan corak yang dihadirkan oleh para perajin busana.
Bukan mode namanya jika tidak ada saingan, setelah merebaknya gaya hijab
beraliran pelangi, muncul lagi gaya hijab yang lebih kalem dengan warna
dominan. Tepatnya pada tahun 2013 ini muncul penggemar hijab yang
mengatasnamakan dirinya sebagai komunitas Hijab Syar’i. Dari namanya
kita sudah bisa menebak apa ambisi dari komunitas ini. Ya ! benar !
komunitas ini bertujuan untuk mengcounter gerakan Hijab sebelumnya yaitu
gerakan Hijab Modis, dengan berpendapat bahwa Hijab Modis adalah “tidak
memenuhi syari’at Islam”, karena terlalu mencolok dan justru menjadi
pusat perhatian lawan jenis. Dengan seperangkat dalil-dalil agama mereka
mulai menyerang Hijab Modis dari berbagai sudut, dan mereka juga kerap
mengadakan kajian-kajian seputar keilmuan agama seperti komunitas hijab
pada umumnya.
Jika kita amati, fenomena seperti ini memang sedikit banyak menyisakan
pertanyaan, dari pertanyaan yang bersifat fashion hingga ideologi!.
Sekilas memang tampak hanya persaingan antar komunitas fashion saja,
namun disini muncul perihal yang memuat keyakinan (ideologi). Katakanlah
fenomena kemunculan Hijab Syar’i, bagi seorang penjual kain, hal itu
memang tampak positif saja karena merupakan rejeki dari merebaknya tren
berhijab. Tetapi bagi penggiat pemikiran Islam, fenomena kemunculan
Hijab Syar’i menjadi PR yang cukup memeras otak. Bagaimana tidak? Coba
kita lihat sekali lagi apa yang terjadi antara kelompok Hijab Besar
dengan kelompok Hijab Modis. (maaf sebelumnya, lebih baik nama “Hijab
Syar’i” kami ganti menjadi “Hijab Besar”, karena memang “belum tentu”
pas dengan Syari’at Islam).
Yang terjadi di lapangan, posisi Hijab Modis adalah sebagai terdakwa,
sedangkan Hijab Besar sebagai si pendakwa. artinya, pihak Hijab Besar
selalu bersikap represif (memojokkan) terhadap kelompok Hijab Modis
dengan berbagai alasan seperti yang telah penulis katakan diatas.
Padahal jika dirunut dari segi “Jasa” (kontribusi) kepada keislaman,
sudah jelas lebih banyak berasal dari kelompok Hijab Modis . Mengajak
wanita untuk menutup aurat misalnya. Yang dulu begitu enggan untuk
memakai Hijab karena modelnya terlalu “monoton”, sekarang menjadi ingin
berjilbab lantaran banyaknya corak dan lebih familiar. Bukankah tujuan
utama hijab adalah semata-mata untuk menutup aurat?. Kemudian, apa
sumbangsih kelompok Hijab Besar bagi keislaman? Mungkin akan
mensyari’atkan model jilbab (hijab) yang kurang syari’at?, sesuai
kata-kata yang sering di publish di berbagai media sosial oleh kelompok
Hijab Besar ini,”Ayo.. Yg belum berhijab, segerakan | Yg sudah berhijab,
hijabnya syar'i-kan | Yg sudah syar'i, syiarkan ke sebanyak mungkin
muslimah”. (Dikutip dari akun facebook Hijab Syar’i /Hijab Besar). Coba
baca sekali lagi kalimat tersebut, disini sangat terlihat unsur
“kecongkakan religius”, mereka menganggap jilbab-nya lah yang paling
syar’i, bahkan mereka menamai dirinya dengan “Komunitas Hijab Syar’i”
yang kemudian model jilbab selain dirinya dianggap tidak memenuhi
syari’at. Nah ! disinilah letak permasalahannya !. Kira-kira seperti apa
model dan bentuk Hijab yang memenuhi syari’at Islam itu?
Belum sempat kita berbicara jilbab, ulama sudah berbeda pendapat tentang
makna jilbab itu sendiri. Ada yang mengatakan jilbab adalah kerudung,
ada juga yang mengatakan baju lebar dan sebagainya. Begitu juga dengan
batasan aurat, ulama juga berbeda pendapat tentang ini, ada yang
mengatakan bahwa seluruh tubuh adalah aurat kecuali wajah dan telapak
tangan, ada juga yang menganggap bahwa wajah merupakan aurat yang harus
ditutupi, dan ada juga ulama yang berpendapat yang penting kita memakai
pakaian terhormat (sopan). Karena memang Al-Qur’an tidak menyebut
batasan tentang aurat !. Jika kita boleh flashback, pada jaman dahulu
organisasi-organisasi Islam di Indonesia seperti Muslimat NU apakah
mereka mengenakan jilbab? Tidak !. Aisyiyah Muhammadiyah pakai jilbab?
Tidak !. Bahkan Istri orang sekaliber Buya Hamka pun tidak mengenakan
jilbab. Bukan berarti mereka tidak tahu, namun memang para ulama masih
berbeda pendapat.
Jadi pada kesimpulannya, tidak ada ruang bagi suatu kelompok untuk
menyalahkan kelompok lain yang berkenaan tentang jilbab ini. Apalagi
dugaan kesalahan itu muncul hanya karena perbedaan model berjilbab !,
Dan terkadang malah menuduh bahwa model jilbab yang dikenakan oleh
kelompok Hijab Modis merupakan adopsi dari busana agama lain, kemudian
dilanjutkan dengan menuduh bahwa mereka meniru-niru kebudayaan Yahudi
misalnya. Ini sangat bodoh, dan terlalu mengada-ada !. Walaupun jika
memang ada kemiripan, faktor ketidaksengajaan bisa saja terjadi, apalagi
di era globalisasi seperti sekarang ini. Jika kita sering melihat
perkembangan dunia Arab, umat Nasrani yang berada disana juga memakai
jilbab seperti pada umumnya umat Islam. Jilbab sudah menjadi adat dunia
Arab, pedagang Heroin pun disana juga mengenakan busana seperti yang
kita anggap sebagai busana Islami di Indonesia. Menurut Ibn ‘Asyur
seorang ulama Andalusia berpendapat bahwa jilbab memang murni produk
budaya Arab yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan Islam.
Adapun pengertian dalam surat Al-Ahzab ayat 59, meskipun dalam redaksi
ayat tersebut memerintahkan jilbab, tetapi bukan semua perintah dalam
Al-Qur’an merupakan perintah wajib. Demikian pula dengan hadits-hadits
yang berkenaan tentang perintah berjilbab bagi wanita adalah perintah
dalam arti “sebaiknya” bukan seharusnya. Dari sini kita jadi lebih
mengerti betapa luasnya pembahasan tentang jilbab. Dari ulama klasik
hingga ulama kontemporer masih berdebat mengenai perihal satu ini. Maka
dari itu, tidak mudah untuk memvonis seseorang itu benar atau salah,
sesuai syari’at atau tidak. Al-Qur’an dan Hadits memang landasan utama
umat Islam, tetapi dalam pengambilan hukumnya (istinbath) diperlukan
seseorang yang berkompeten dalam bidangnya, dan kita tidak boleh
sembarangan dalam menafsirkan teks-teks agama, apalagi banyak dari kita
yang hanya mengandalkan “Al-Qur’an terjemahan Departemen Agama RI” sudah
berani mengambil kesimpulan hukum. Islam tidak menginginkan hal semacam
itu.
Pada akhirnya, berjilbab dengan model apapun sah-sah saja, dan tentunya
berjilbab itu baik ! tetapi jadi tidak benar jika karena ingin
mempertahankan kelompok anda, anda harus menyerang pandangan kelompok
lain. Kelewat sepele jika busana dijadikan tolok-ukur ketaqwaan
seseorang.
Wallahu a’lam Wa ahkam.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/aanmb/jilbab-besar-belum-tentu-syar-i_55292b08f17e61a7458b4575
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/aanmb/jilbab-besar-belum-tentu-syar-i_55292b08f17e61a7458b4575
Tidak ada komentar:
Posting Komentar